Komunikasi langsung dan tidak langsung sering menjadi sumber salah paham antara orang Indonesia dan orang Polandia. Jawaban yang bagi satu pihak terasa jelas dapat terdengar terlalu tegas bagi pihak lain. Sebaliknya, pesan yang dimaksudkan sebagai penolakan atau keberatan dapat dianggap belum final jika terlalu bergantung pada konteks.
Namun, perbedaannya tidak sesederhana “orang Polandia berbicara langsung, sedangkan orang Indonesia berbicara tidak langsung”.
Dalam kedua bahasa, orang dapat menyampaikan maksud secara lebih langsung atau lebih halus. Pilihannya berubah menurut hubungan, situasi, tujuan percakapan, dan seberapa sensitif pesan yang disampaikan.
Yang penting bagi orang Indonesia bukan menghafal satu “gaya Polandia”, tetapi memahami kapan maksud perlu disampaikan lebih eksplisit dan bagaimana membaca jawaban yang terdengar lebih tegas.
Untuk gambaran umum mengenai komunikasi dengan orang Polandia, baca Cara Berkomunikasi dengan Orang Polandia: Panduan Lintas Budaya
Apa yang dimaksud dengan komunikasi langsung dan tidak langsung?
Secara sederhana, komunikasi lebih langsung ketika maksud utama dinyatakan dengan jelas dalam kata-kata.
Misalnya:
Saya tidak bisa datang.
Saya tidak setuju dengan usulan ini.
Ada masalah dengan dokumen ini.
Pesan yang lebih tidak langsung memberi peran lebih besar kepada konteks, implikasi, atau unsur peringan.
Misalnya:
Sepertinya minggu ini agak sulit.
Mungkin kita bisa mempertimbangkan cara lain.
Bagian ini mungkin perlu dilihat lagi.
Kedua cara tersebut dapat digunakan dengan sopan.
Penelitian Eva Ogiermann mengenai permintaan dalam bahasa Polandia, Rusia, Jerman, dan Inggris menunjukkan bahwa hubungan antara bentuk langsung, bentuk tidak langsung, dan kesopanan tidak sama dalam setiap bahasa dan budaya.
Karena itu, lebih langsung tidak otomatis lebih kasar, dan lebih tidak langsung tidak otomatis lebih sopan.
Mengapa sebagian jawaban orang Polandia dapat terasa lebih tegas?
Bagi orang Indonesia, perbedaan sering terasa ketika percakapan membutuhkan keputusan, penolakan, atau penjelasan masalah.
Jawaban seperti:
Nie mogę.
Saya tidak bisa.
Nie wiem.
Saya tidak tahu.
Nie zgadzam się.
Saya tidak setuju.
menyampaikan inti pesan dengan sangat jelas.
Jika kita terbiasa menambahkan lebih banyak penjelasan atau unsur peringan, bentuk seperti ini dapat terdengar keras. Namun, kalimat yang pendek belum cukup untuk menunjukkan bahwa pembicara sedang marah atau tidak menyukai kita.
Perhatikan fungsi jawabannya.
Apakah ia hanya memberikan informasi?
Apakah ia sedang menetapkan batas?
Apakah ia menjelaskan bahwa sesuatu tidak dapat dilakukan?
Atau apakah cara penyampaiannya memang merendahkan atau menyerang?
Ketegasan pesan dan ketidaksopanan bukan hal yang sama.
Bahasa Indonesia juga tidak selalu menggunakan komunikasi tidak langsung
Bahasa Indonesia mempunyai berbagai strategi untuk menyampaikan permintaan, penolakan, dan maksud lain.
Penelitian Timothy Hassall mengenai permintaan dalam bahasa Indonesia menunjukkan adanya variasi strategi sesuai konteks.
Kajian Nadar dan rekan-rekannya mengenai penolakan dalam bahasa Indonesia juga menunjukkan bahwa penolakan dapat dibentuk melalui berbagai strategi dan kombinasi beberapa unsur, bukan hanya satu bentuk tetap.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa orang Indonesia selalu berbicara secara tidak langsung.
Yang lebih relevan dalam komunikasi dengan orang Polandia adalah bahwa dalam sebagian situasi, maksud dalam bahasa Indonesia dapat sangat bergantung pada konteks, unsur peringan, dan apa yang diharapkan dapat dipahami oleh lawan bicara.
Jika lawan bicara tidak membaca petunjuk tersebut dengan cara yang sama, pesan dapat diterima berbeda dari yang kita maksud.
Penolakan halus dapat dianggap belum final
Bayangkan seorang teman mengundang Anda untuk bertemu pada akhir pekan.
Anda menjawab:
Sepertinya Sabtu agak sulit.
Bagi Anda, maksudnya mungkin sudah cukup jelas: Anda tidak bisa datang.
Namun, lawan bicara dapat memahami bahwa masalahnya hanya terletak pada Sabtu dan menawarkan hari lain.
Respons seperti itu tidak selalu berarti bahwa ia memaksa. Ia mungkin memang belum memahami bahwa Anda sudah menolak.
Jika keputusan sudah final, sedikit tambahan kejelasan dapat membantu:
Terima kasih sudah mengundang saya, tetapi Sabtu ini saya tidak bisa datang.
Jika Anda masih ingin bertemu pada waktu lain:
Sabtu ini saya tidak bisa, tetapi Minggu sore mungkin bisa.
Dengan begitu, lawan bicara tidak perlu menebak bagian mana yang sudah pasti dan bagian mana yang masih terbuka.
Unsur peringan dapat membuat maksud kurang pasti
Kata seperti mungkin, sepertinya, atau agak sulit dapat membantu membuat pesan terasa lebih lembut.
Namun, unsur seperti ini juga dapat mengubah tingkat kepastian.
Bandingkan:
Saya tidak bisa menyelesaikannya hari ini.
dengan:
Sepertinya agak sulit selesai hari ini.
Kalimat kedua dapat dipahami sebagai kemungkinan, bukan keputusan.
Jika informasi tersebut memengaruhi rencana orang lain, lebih aman memisahkan keputusan dari cara menyampaikannya dengan sopan:
Saya tidak bisa menyelesaikannya hari ini. Saya dapat mengirimkannya besok pagi.
Pesannya tetap sopan, tetapi tidak menimbulkan keraguan tentang situasi sebenarnya.
Perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik pribadi
Salah paham juga dapat muncul ketika seseorang menyatakan ketidaksetujuan secara jelas.
Misalnya:
Saya tidak setuju.
Menurut saya, cara ini tidak tepat.
Solusi ini tidak akan menyelesaikan masalah.
Bagi orang Indonesia, terutama ketika hubungan belum dekat atau situasinya sensitif, kalimat seperti ini dapat terasa lebih kuat daripada bentuk yang biasa digunakan untuk menjaga suasana.
Namun, penting untuk melihat apa yang sedang dikritik.
Ada perbedaan besar antara:
Menurut saya, solusi ini tidak akan berhasil.
dan:
Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan.
Kalimat pertama membahas ide atau solusi.
Kalimat kedua menyerang orangnya.
Jika komentar terasa terlalu singkat atau kurang jelas, pertanyaan konkret dapat membantu:
Bagian mana yang menurut Anda bermasalah?
Apa alternatif yang Anda sarankan?
Dengan begitu, percakapan kembali pada masalah yang dapat dibahas.
Masalah sebaiknya dibuat cukup jelas agar dapat ditangani
Dalam komunikasi lintas budaya, keinginan menjaga suasana kadang membuat inti masalah terlalu samar.
Misalnya:
Sepertinya ada sedikit masalah dengan jadwal.
Kalimat ini belum memberi tahu lawan bicara seberapa serius masalahnya.
Jika kenyataannya tenggat tidak mungkin dipenuhi, lebih berguna mengatakan:
Saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini pada Jumat. Saya membutuhkan waktu sampai Senin.
Atau:
Ada kesalahan pada bagian ini dan perlu diperbaiki sebelum dokumen dikirim.
Dalam situasi seperti ini, kejelasan membantu orang lain memahami konsekuensi dan mengambil keputusan.
Bukan berarti pesan harus menjadi dingin atau kasar. Alasan, permintaan maaf, atau alternatif tetap dapat diberikan jika memang membantu.
Yang penting, inti masalah tidak hilang di balik usaha untuk melembutkan penyampaiannya.
Penolakan yang jelas tetap dapat terdengar sopan
Mengatakan “tidak” secara jelas tidak berarti harus menjawab dengan kasar.
Misalnya:
Terima kasih atas undangannya, tetapi saya tidak bisa datang.
Terima kasih sudah menawarkan bantuan. Untuk saat ini saya belum membutuhkannya.
Saya memahami usulannya, tetapi saya belum dapat menyetujuinya.
Dalam banyak situasi, struktur sederhana sudah cukup:
- akui tawaran atau posisi lawan bicara jika diperlukan;
- sampaikan keputusan;
- tambahkan alasan atau alternatif jika memang berguna.
Tidak semua penolakan membutuhkan penjelasan panjang.
Tujuannya bukan mencari formula yang sempurna, tetapi memastikan bahwa kesopanan tidak membuat keputusan utama menjadi tidak jelas.
Ketidaksetujuan lebih mudah dibahas jika objeknya jelas
Hal yang sama berlaku ketika menyampaikan perbedaan pendapat.
Daripada mengatakan:
Anda salah.
lebih berguna menjelaskan apa yang sebenarnya berbeda:
Saya melihatnya berbeda karena…
atau:
Saya tidak setuju dengan bagian ini. Menurut saya…
Dalam situasi praktis, fokus pada konsekuensi sering membuat percakapan lebih produktif:
Jika kita menggunakan cara ini, waktunya tidak akan cukup.
Data ini belum cukup untuk mengambil keputusan.
Dengan begitu, lawan bicara mengetahui apa yang perlu dibahas tanpa menjadikan perbedaan pendapat sebagai penilaian terhadap dirinya.
Jangan menjelaskan semua perilaku dengan budaya
Pengetahuan tentang perbedaan komunikasi dapat membantu, tetapi jangan menggunakannya sebagai jawaban untuk setiap situasi.
Jika seseorang menjawab singkat, penyebabnya bisa bermacam-macam. Ia mungkin terburu-buru, memang lebih pendiam, sedang kesal, atau merasa bahwa pertanyaan sudah terjawab.
Tidak setiap jawaban singkat berarti:
“Begitulah orang Polandia.”
Hal yang sama berlaku bagi orang Indonesia. Penolakan yang halus dalam satu situasi tidak berarti semua orang Indonesia selalu menghindari jawaban langsung.
Hubungan, usia, lingkungan, posisi, kepribadian, dan konteks tetap penting.
Budaya membantu kita melihat beberapa kemungkinan, bukan menentukan jawaban tentang seseorang.
Kapan sebaiknya berbicara lebih eksplisit?
Tidak setiap percakapan membutuhkan tingkat kejelasan yang sama.
Pesan sebaiknya dibuat lebih eksplisit jika menyangkut:
- keputusan final;
- penolakan;
- perubahan rencana;
- waktu atau tenggat;
- masalah yang harus diperbaiki;
- tanggung jawab;
- permintaan bantuan;
- batas pribadi.
Dalam situasi seperti ini, salah tafsir dapat mempunyai konsekuensi nyata.
Dalam percakapan santai, kita tentu tidak perlu membuat setiap kalimat sangat literal.
Komunikasi yang efektif bukan berarti selalu berbicara sejelas mungkin, tetapi cukup jelas untuk kebutuhan situasi tersebut.
Jika jawaban terasa terlalu keras, periksa isi dan konteksnya
Sebelum menyimpulkan bahwa seseorang sedang marah atau tidak menghormati Anda, perhatikan tiga hal:
Apa isi pesannya?
Apakah ia hanya memberikan keputusan, informasi, atau menjelaskan masalah?
Bagaimana cara penyampaiannya?
Apakah nadanya tetap netral, atau memang ada ejekan, penghinaan, dan sikap merendahkan?
Apa konteks hubungan dan situasinya?
Apakah ini percakapan praktis, perbedaan pendapat, atau konflik yang lebih pribadi?
Pertanyaan seperti ini membantu membedakan komunikasi yang terasa tegas dari perilaku yang memang tidak pantas.
Perbedaan budaya tidak pernah menjadi alasan untuk menerima penghinaan atau perlakuan merendahkan.
Komunikasi langsung dan tidak langsung bukan dua pilihan yang saling bertentangan
Dalam komunikasi dengan orang Polandia, orang Indonesia tidak perlu berhenti menggunakan konteks, keramahan, atau unsur peringan.
Yang lebih penting adalah mengetahui kapan maksud utama perlu dibuat lebih jelas.
Kita tetap dapat berbicara dengan sopan sambil mengatakan bahwa kita tidak bisa, tidak setuju, membutuhkan bantuan, atau melihat sebuah masalah.
Sebaliknya, ketika orang Polandia menyampaikan sesuatu dengan lebih singkat atau eksplisit, jangan menilai hubungan hanya dari bentuk kalimatnya. Perhatikan isi, situasi, nada, dan tindakan yang menyertainya.
Komunikasi langsung dan tidak langsung bukan dua gaya tetap yang membagi Indonesia dan Polandia. Keduanya merupakan pilihan yang dapat digunakan secara berbeda menurut hubungan dan konteks.
Dalam komunikasi Polandia-Indonesia, tantangannya adalah memastikan bahwa cara kita menyampaikan pesan tidak membuat maksud utama hilang atau diterima secara berbeda dari yang kita harapkan.
Untuk kembali ke gambaran umum, baca Cara Berkomunikasi dengan Orang Polandia: Panduan Lintas Budaya
Sumber dan bacaan lebih lanjut
- Hassall, T. (1999). Request Strategies in Indonesian. Pragmatics, 9(4), 585-606.
- Nadar, F. X., Wijana, I. D. P., Poedjosoedarmo, S., & Djawanai, S. (2005). Penolakan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Humaniora, 17(2), 166-178.
- Ogiermann, E. (2009). Politeness and In-directness across Cultures: A Comparison of English, German, Polish and Russian Requests. Journal of Politeness Research, 5(2), 189-216.
Jelajahi kategori di bawah ini dan pilih topik yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda saat ini.